efek sosial media saat konser

bagaimana merekam lewat hp merusak pengalaman sensorik asli

efek sosial media saat konser
I

Bayangkan kita sedang berada di konser musisi favorit. Tiketnya susah didapat dan harganya lumayan menguras tabungan. Lampu panggung tiba-tiba redup. Suara bass mulai menggetarkan dada. Kita bersiap berteriak histeris. Tapi, tepat saat sang vokalis muncul dari balik asap panggung, pemandangan kita tiba-tiba tertutup oleh lautan layar terang benderang. Ribuan tangan terangkat ke udara. Semua sibuk merekam momen itu lewat lensa smartphone.

II

Saya rasa kita semua pernah jadi bagian dari lautan layar itu. Tidak ada yang salah dengan keinginan mengabadikan momen penting. Sejak zaman prasejarah, manusia purba melukis dinding gua karena dorongan psikologis yang sama. Kita ingin membuktikan bahwa kita ada di sana. Kita ingin punya cerita untuk dibagikan. Di era modern, dinding gua itu telah berubah bentuk menjadi media sosial.

Tapi, pernahkah teman-teman merasa ada yang aneh sepulang dari konser? Kita berhasil merekam seluruh setlist lagu dari awal sampai akhir. Tapi saat rebahan di kasur, rasanya konser itu berlalu begitu saja seperti mimpi yang samar. Tubuh kita lelah, telinga masih berdenging, namun ledakan emosi magis yang seharusnya kita rasakan di venue malah terasa kosong. Kenapa bisa begitu?

III

Mari kita bedah situasi ini pelan-pelan. Tubuh manusia telah berevolusi jutaan tahun untuk merespons lingkungan secara langsung. Mata, telinga, dan kulit kita adalah sistem sensorik tercanggih di alam semesta. Saat kita menonton live music, seharusnya ada jutaan titik data sensorik yang masuk dan diproses oleh otak.

Masalahnya mulai muncul ketika kita meletakkan sebuah layar menyala di antara mata dan panggung. Otak kita tiba-tiba kebingungan. Ia dipaksa memilih: apakah harus fokus meresapi kharisma penyanyi di panggung, atau fokus menjaga agar frame rekaman di layar HP tidak miring? Di titik kritis inilah sebuah ironi psikologis terjadi. Niat awal kita merekam adalah supaya kita tidak lupa. Tapi faktanya, secara sains, merekam justru sedang merusak ingatan kita sendiri.

IV

Ilmuwan saraf dan psikolog kognitif menyebut fenomena ini sebagai efek cognitive offloading. Sederhananya begini. Ketika kita merekam sesuatu menggunakan smartphone, otak kita secara tidak sadar mendelegasikan tugas mengingat memori tersebut ke alat di tangan kita. Otak seolah berkata, "Oh, benda kotak ini sudah menyimpannya dengan baik, jadi saya tidak perlu repot-repot memproses detailnya." Akibatnya, kita justru kehilangan resolusi emosional dari momen tersebut.

Bukan cuma soal memori, ini juga masalah peretasan sensorik. Saat kita melihat dunia melalui layar, kita mengompres pengalaman tiga dimensi yang kaya menjadi sekadar gambar dua dimensi yang datar. Ini memicu apa yang disebut sebagai divided attention atau perhatian yang terpecah. Otak manusia pada dasarnya sangat payah dalam urusan multitasking. Saat kita sibuk mengatur tingkat zoom, mengunci fokus kamera, atau mengecek kecerahan layar, kita sebenarnya sedang memblokir aliran hormon bahagia. Pelepasan dopamin dan oksitosin—yang seharusnya membanjiri otak saat kita bernyanyi bersama ribuan orang—jadi terhambat. Secara fisik tubuh kita hadir di sana. Tapi secara mental, kita sedang checkout.

V

Saya tentu tidak sedang mengajak teman-teman untuk memusuhi teknologi atau membuang HP saat menonton konser. Mendokumentasikan satu atau dua lagu favorit sebagai kenang-kenangan tentu sangat wajar. Namun, ada baiknya kita mengingat kembali alasan utama kita merogoh kocek dalam-dalam untuk berada di sana. Kita tidak membayar mahal untuk menjadi juru kamera amatir. Kita membayar untuk merasakan getaran musik yang menghantam dada, untuk menangis terharu, dan untuk melompat bebas sampai kaki terasa pegal.

Nanti, saat kita berkesempatan datang ke konser lagi, cobalah sebuah eksperimen kecil. Simpan HP rapat-rapat di dalam saku saat lagu yang paling kita tunggu dimainkan. Tatap panggungnya dengan mata kepala sendiri. Bernyanyilah sampai suara habis. Rasakan energi luar biasa dari orang-orang asing di sebelah kita. Percayalah, video dengan kualitas 4K di galeri HP tidak akan pernah bisa mengalahkan rekaman emosi yang terukir secara permanen di dalam jiwa kita.